Tak terasa hari ini telah memasuki H-1 Ramadhan, alhamdulillah puji syukur kupanjatkan hanya pada-Nya karena dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh rahmat ini, bulan yang suci menuju kemenangan sejati. Insya Allah.
Weekend pasca semester pendek, 2 hari kemarin sudah kuhabiskan untuk nongkrong dan jalan-jalan. Namun khusus hari ini memang sengaja kukosongkan dalam rangka mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan sebaik mungkin. Lagian hari minggu gini biasanya traffic jam di kota ini mencapai puncaknya makanya aku males banget mau kemana-mana. Selagi guling-guling dikasur, telfon mama disana membangunkanku, seakan sebagai intermezzo untuk rencana aktivitasku hari ini.
Ma : “Halo mbak, baru ngapain?”
Me : *ucek-ucek mata, perbaiki suara* “ini lagi di kosan aja, mau beres-beres kosan”
Ma : “kamu sendirian dikosan?”
Me : “enggak kok, masih ada valda uti sama icha. Lainnya udah pada mudik.”
Ma : “lha gak ada rencana keluar kemana gitu? atau acara apa?”
Me : “kemaren udah ma, males keluar. Ini pasti jalanan macet banget, besok mulai magang makanya hari ini mau istirahat aja. Lagian ini tanggal tuo, bokek, ban motor bocor juga”
Ma : “gek cepet ndang ditambal”
Me : “iya ini habis ini. Emang orang rumah pada mau keluar gitu po hari ini?”
Ma : “enggak, mamah dirumah wae, bapakmu lembur, Icat dolan, Andri diajak temennya renang. Padusan kan ceritanya”
Me : “Padusan??”
……………
Padusan. Seakan telfon mama tadi mengingatkanku akan istilah satu ini. Kuingat kembali, terakhir aku menjalaninya sekitar 4 tahun lalu. Ini tahun ketiga dimana aku menjalani puasa ramadhan jauh dari keluarga seraya mengingat pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, karena sekarang saya di tanah sunda saya pun juga harus menjung tinggi langit diatasnya. Ritual padusan pun tidak berlaku disini.
Tradisi Padusan sebenarnya berasal dari kata dasar adus, yang artinya mandi. Secara sederhana padusan diartikan mandi dengan maksud penyucian diri agar dapat menjalani peribadahan di bulan suci Ramadhan dalam kondisi suci. Dengan keadaan suci ini, khususnya suci lahir, diharapkan tujuan peribadahan untuk mencapai ketaqwaan. Namun dari sudut pandang syariat tidak ada aturan yang jelas mengenai hal ini. Yang jelas sebagai umat muslim sudah menjadi kebiasaan mensucikan diri baik sebelum menjalankan sholat maupun puasa.
Tapi okelah, monggo saja.
Semua kembali lagi ke diri kita masing-masing karena itu hanyalah tradisi, yang tahu mana yang baik adalah diri kita sendiri.
Namun sebagai orang jawa tulen yang sampai sekarang masih (sedikit) percaya sama mitos - mitos macem legenda Nyi Roro Kidul sekalipun (zzzz) aku beneran pengen banget bisa ngerasain padusan lagi. Selagi berpikir dimana kira - kira tempat yang enak dan rada sepi buat padusan secara khusyuk, akupun meminta saran dari beberapa followers. Namun sayangnya jawaban dari mereka sungguh tidak bermutu: Ciater kek (gile, jam segini mateng aja berendam disitu), Situ Patenggang kek, bahkan kawah putih (ebuset, ada gak yang lebih jaoh lagi?)
Akhirnya kuputuskan: yaudahlah ya, padusan di kosan aja. Mumpung di kosan juga cuma ada gue icha valda, sabotase aja tuh aer dikosan. Dimulai dari nyuci baju segunung sampe sprei selimut handuk serbet kecuci juga. Ngepel kamar sampe kinclong, hingga Webee pun ikut padusan juga, si putih kesayangan yang udah setia nemenin gue kemana-mana ini pun ternyata juga punya dosa kayak yg nabrak lah, mbaret lah, dan sebagainya.
Aku benar-benar merasakan sensasi langsung dari padusan ini. Yang jelas ngerasa bersih, seger, refreshing my mind. Logikanya seperti ini: jika kita terkena najis besar seperti haid, jilatan anjing, mimpi basah, taubat nasuha, cara mensucikannya dengan cara mandi besar. Di dalam najis, terkandung suatu dosa. Kita hidup mulai dari Ramadhan sebelumnya hingga Ramadhan datang lagi mustahil jika luput dari dosa. Makanya tak salah jika orang Jawa percaya ritual ini sebagai salah satu cara untuk mensucikan diri. Bukankan kebersihan itu juga sebagian dari iman? :)
_______________________________________________________________
at lunch :
M : *cerita panjang lebar mengenai tradisi padusan* “iya, masalahnya gue bingung mau padusan dimana, yaudahlah sabotase aja aer di apartemen.”
V : “padusan? Danau Dakol tuh sepi”
M : “……….”