Jam tanganku menunjukkan pukul 15.45, kusadari memang cuaca di kota ini tidak sesejuk dan senyaman dulu. hampir seluruh ruas-ruas jalan di kota ini dipadati oleh kendaraan yang lalu-lalang menikmati suasana akhir pekan. Namun entah mengapa hal itu malah semakin membuat emosiku semakin meluap saja.
Aku tak tahu mau kemana lagi setelah mengantarkan salah seorang sahabatku kepada kekasihnya yang sedang jatuh sakit. Berjalan terus mengikuti perintah one way ditengah terik yang semakin menghujam, seakan-akan pasrah kepada angin yang membawa langkahku ini pergi. Kesepian ditengah keramaian. Paradoks!
Akhirnya aku terhenti di sebuah kedai mini, ceritanya sih sekedar mengisi perut
“Selamat sore, chicken fillet nasi setengah plus es teh manis di meja 3!”
Di meja sebelah, kudapati dua orang cewek dan satu orang cowok dalam satu meja. Jika dilihat dari fisiknya, mereka terlihat seperti mahasiswa tingkat dua, umurnya sekitar Sembilan belas tahunan. Namun jika dilihat dari topik obrolannya, mereka bertiga sepertinya aktivis di kampus mereka
*********
Cewek 1 : “iya ih, gue heran loh kenapa lo kemaren gak nyalon jadi ketua BEM di fakultas lo?”
Cewek 2 : “jiah, kenapa sih banyak yang ngomong kayak gitu?”
Cowok : “nahlo!”
Cewek 2 : “hmmm oke oke jadi sebenernya emang sih ada suatu oknum yang memang mereka pengen aku jadi ketua BEM fakultas. Cuma aku juga gak segampang itu juga kan mengiyakan keinginan mereka.”
Cowok : “lah, kenapa emangnya?”
Cewek 2 : “sebelumnya aku galau parahlah cuma buat mikirin ini, aku kan sebelumnya pengen banget jadi DPM, tapi ujung-ujungnya ya sekarang ini lah seperti yang kalian juga udah tau ceritanya kenapa.”
Cewek 1 : “gue liat lo orangnya juga terlalu banyak pertimbangan sih”
Cewek 2 : “eh bukan gitu, aku gak pengen nantinya salah langkah aja. Aku Cuma butuh masukan dari orang-orang terdekat aja sih. Dan ternyata kalo pengamatan si bos sendiri bilang kalo mau jadi ketua BEM fakultas jangan sekarang, karena kita semua tahu budaya di fakultas gue kental sama senioritasnya, bagi dia aku dirasa masih terlalu labil buat memimpin fakultas. Apalagi yang namanya seorang pemimpin itu dia harus bisa jadi contoh. Kalo gue jadi ketua BEM di fakultas kalian sih gak masalah katanya.”
Cowok : “yeee si bos aya-aya wae deh, masa iya fakultas kita dipimpin anak fakultas laen?”
All : *ngakak*
Cewek 1 : “tapi emang loh gak tau kenapa sama para petinggi kampus kita yang sekarang gue rada rada gimana gitu, gak ada yang sekiranya bisa dijadikan contoh, gile mereka kalo gue liat mah cuma pada gila jabatan semua”
Cewek 2 : “hus!”
Cowok : “lah, emang faktanya kan? By the way, Aku bener-bener rindu sosok seperti bos yang bisa mengayomi juniornya, petuah-petuahnya, apalagi kalo ngeliat cara dia berbicara di depan umum, beuh!”
Cewek 1 : “dan lo sekarang betah dengan amanah barumu itu?”
Cewek 2 : “belajar dari pengalaman setahun kemaren sih, yang jelas gue gamau menempati posisi yang sama di organisasi yang sama, seperti kata si bos bahwa yang udah jadi follower jadilah leader, kalo gak gitu caranya gimana kita bisa maju? Gileeee ogahlah kalo gue sampe ngikutin ajakan ‘si ketua’ buat nempatin posisi yang sama lagi, bisa diinjak-injak gue sama dia.”
Cewek 1 : “hahahaha iya bener juga”
Cowok : “iya bener, bos dulu juga pernah bilang ke gue kalo dimanapun kita berada, siapapun pemimpin kita, yang jelas kita harus terlihat yang paling bersinar disitu. Jadi bawahan bukan berarti derajat kita rendah, tapi kita juga berkewajiban untuk mengingatkan pemimpin kita. Kalo dia jatuh ke lubang otomatis kita juga bakal jatoh ke lubang yang sama,”
Cewek 2 : “yang jelas apapun amanah gue, gue bersyukur dan berterimakasih bnaget sama si bos karena beliau udah mempertemukan gue sama kalian berdua, gue berasa gak lagi berjuang sendirian sekarang apalagi jarak kampus kita yang jauh. Kalian berdua emang partner terhebat gue. Makasih ya!”
Cewek 1 : “haduuuhhh kenapa jadi sedih gini gue :’) oke kalo ada apa-apa jangan sungkan buat sharing deh ya”
************
aku terbangun dari perhatianku yang daritadi kutujukan hanya pada mereka. Tak sadar seluruh isi piringku juga sudah habis. Aku melihat mereka adalah generasi potensial yang dipilih oleh orang hebat dan paling berpengaruh di kampus mereka. Jujur, aku iri dengan kedekatan mereka bertiga. Seperti yang dikatakan oleh guru spiritual saya bahwa sangat berartinya hidup kalau kita mempunyai lawan bicara yang nyambung dan punya passion yang sama, Dan saya percaya mempunyai orang yang tepat disaat yang tepat adalah rejeki yang yang tak ternilai harganya. Betul sekali karena kalau bagi saya sih gak munafik juga kalo kita gak selamanya pengen berada di dekat orang yang berbeda dengan kita kan?
Sang waktulah yang memisahkan. Ah, Andai bisa kubagi semua ceritaku