Smart women love smart men more than smart men love smart women. – Natalie Portman
Jujur saya tidak pernah iri sama orang yang pintar. Tetapi saya akan teramat sangat iri dengan orang yang mau belajar. Ketika ia menggali dalam-dalam semua potensi yang ada dalam dirinya, selalu tidak betah dan ingin segera keluar dari zona nyamannya. Tidak ragu ataupun malu untuk bertanya kepada orang yang lebih ahli serta tidak sungkan untuk membagi ilmu yang dimiliki demi kemaslahatan bersama. “kapan bangsa ini mau maju kalau kita menggunakan ilmu hanya untuk kepentingan sendiri? Ingatlah, Tuhan akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya bila dibandingkan dengan ahli ibadah. Ilmu yang bermanfaat pahalanya tidak akan terputus sekalipun kita telah kembali pada-Nya” begitu kata mama saya.
Jumat 21 Januari pukul 18.30 WIB
Jika saya menggambarkan fase pertama kali kami saling mengenal, dekat, sampai ke tahap yang tak dapat dideskripsikan sekarang ini dengan partisipasi kami dalam kegiatan kemahasiswaan dapat diaproksimasi secara diskrit dengan suatu fungsi kontinu, yaitu pertambahan kapasitas (dalam hal ini kontribusi) terhadap waktu dan digambarkan oleh kurva berbanding lurus. Semakin kami dekat, semakin kami sibuk (dan semakin sering kami bertemu) walaupun minat kami berbeda, saya lebih ke organisasi politik sedangkan dia ke organisasi yang bersifat akademis.
Malam ini, saya melihat bahwa dia agak sedikit ‘kaget’ ketika memasuki suasana yang begitu panas, saling menyalahkan dan menjatuhkan, meminta pertanggungjawaban, hingga saling serang antar kaum oposisi. Maklumlah ia orang baru maka tidak heran jika ia merasa asing dengan acara semacam ini. Hingga akhirnya saya pahami akan rencana jangka panjangnya bahwa dia telah dikader untuk memimpin sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa. Pelan-pelan saya perkenalkan kepadanya : this is KM IM Telkom! Selamat datang di dunia perpolitikan kampus! Segala sesuatunya akan berimbas dan bermuara kesini entah itu organisasi politik seperti BEM dan DPM, organisasi akademis, budaya bahkan olahraga. Karena kita satu keluarga.
Bersama rekan seperjuangan saya, saya coba ajak dia pelan-pelan memperkenalkan lingkungan dan situasi semacam ini melalui orolan santai kami malam itu. Tidak ada maksud untuk mendoktrin, saya tak malu dihadapannya untuk membicarakan bahkan menunjukkan langsung di tempat itu juga siapa-siapa saja selama ini yang menjadi lawan politik saya. Tidak ketinggalan pula saya perkenalkan juga dia kepada sosok yang selama ini menjadi panutan saya dan rekan saya tersebut dalam berkiprah di KM. saya arahkan dia untuk memperhatikan secara langsung bagaimana seorang Aditian Wijaya terlebih ketika beliau menghimpun dan menarik perhatian massa. Bukan karena saya capek menjelaskan, saya arahkan pula dia agar membaca AD/ART KM. Ini bekal lho buat kamu nanti!
namun saya juga mencoba untuk meneyelami ke dalam pikirannya. Bagaimana pandangannya terhadap situasi saat itu dan penjelasan dari saya. Ternyata dia tipe orang yang cepat sekali menangkap dan belajar. Pendirian agar nantinya memiliki gaya kepemimpinan sendiri berdasarkan kepribadiannya, bukan sepenuhnya copycat dari orang lain. His ability to complete my unfinished sentences when I’m out of words. His jokes. That’s why I really comfort beside him.
Waktu terus berputar hingga tengah malam. Bayang-bayang kasur empuk pun membayangi hingga ketiga dewan presidium. Saya lihat warna merah telah menodai mata kecoklatannya namun seakan energinya masih juga berlimpah untuk mengikuti jalannya kongres dari awal hingga akhir.
Sabtu, 22 Januari 2011 pukul 04.45 WIB
Kongres berakhir diiringi dengan kumandang adzan subuh. Waktu jualah yang memisahkan kami. Saya berhasil melalui suatu malam yang hebat dengan pembicaraan yang berkualitas pula. FYI, ada 3 tingkatan dalam pembicaraan 1. Pembicaraan Kualitas rendah dimana topik yang menjadi pembicaraan adalah ghibah fitnah dan kawan-kawannya, 2. pembicaraan biasa ketika ia membicarakan hal-hal biasa dan yang paling tinggi tingkatannya adalah 3. Pembicaraan berkualitas dimana mereka membicarakan tentang ide dan gagasan.
Udara pagi ini benar-benar langsung menyebar ke seluruh tubuh dan siap memancarkan energi positif untuk menjalani hari. Sang surya telah menampakkan tejanya ke penjuru bumi. Namun kulihat ada beberapa bintang yang masih memencarkan kilauannya. Sebelum bintang-bintang itu pergi, kubisikkan sesuatu padanya agar mereka meneruskannya hingga langit ketujuh “Tuhan, jika memang benar hati ini untuknya, maka kumohon jagalah hati ini, cinta ini, jadikanlah dia sebagai aura positif penebar semangat agar senantiasa menjalani hari semakin baik. Tuhan, hindarkanlah hamba dari cinta yang semu, cinta yang hanya berdasar kepada nafsu sesaat dan bukan karena-Mu. Tuhan, saya memang menunggunya tapi tidak untuk dipaksakan. Berilah kami yang terbaik. Amin.”
Karena cinta memang tak pernah salah memilih :)