Sore hari di kampus tercinta menjelang UAS mata kuliah CRM in Telcos Company. Aku mendapati dirinya (Aa) tengah jalan bareng sahabatnya. Dipandu dengan penampilan andalannya: kaos dirangkap kemeja. Sederhana sekali. Lirikan kecil mataku yang memang kutujukan untuknya berbalas juga dengan senyuman yang tersungging lebar dari bibirnya. Tapi itu tak lama, karena saya sadar posisi saya saat itu sedang membicarakan hal serius dengan 2 orang petinggi KM IM Telkom (salah satunya adalah objek yang akan saya jadikan ini di postingan ini dan sambungan kemarin).
BA : “eh Meg! Ya ampun lama kita gak ketemu. Eh besok jangan lupa setengah 7 malem di 3a-3b ya. Kita bareng-bareng presentasiin konsep yang dulu pernah kita bicarakan”
MG : “eh iya bang. Eh ada teteh. Sekalian deh ya teh saya bicarain disini tentang hasil advokasi saya kemaren”
TA : “oke. Kamu ada ujian apa sekarang?”
MG : “ada teh, CRM”
TA : “udah belajar kan?”
MG : “insya Allah udah teh” (muka penuh optimis setelah disemangati) *wink*
TA + BA : “ (blablablabla menjelaskan seraya bedebat. Seperti biasa jika saya sudah berhadapan dengan dua orang itu, saya hanya bisa mengangguk karena gak ngerti harus ngomong apa)”
Kulihat kearah kemana Aa bersama sahabatnya tadi berjalan. Kusadari aku sudah kehilangan jejaknya. Melihat waktu yang semakin mendekati jam 4, akhirnya kuputuskan untuk menyudahi saja “obrolan garis keras” itu.
MG : “bang, teh, punten udah mau jam 4 nih. saya ujian dulu ya”
BA : “oke, jangan lupa jarkomin rekan kerja kamu itu semua ya!”
Aku berjalan menuju ruang ujian. Ditengah perjalanan, saya baru ngeh. Tadi saya tengah diajak berbicara dengan mentor inspirasional saya, abang saya. Namun sayangnya saya tidak fokus akibat sapaan si penyemangat hidup tadi. Tidaklah sama sekali terpikirkan oleh saya bahwa kata-kata abang yang mengatakan “ya ampun lama kita gak ketemu” seakan mengisyaratkan bahwa setelah obrolan singkat tadi, paling banter habis kongres Jumat nanti, kami bakalan jarang banget bertemu mengingat saat ini dia sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir dimana yang ada di dalam pikirannya kini hanyal segera menyelesaikan studinya. Oh Tuhan, waktu mutlak tidak bisa di reset. Dan saya paling benci sama yang namanya PERPISAHAN.
Ya, dialah orangnya. Orang yang diceritakan oleh teman saya dalam postingan sebelumnya. Saya sadar, sepak terjang saya di KM ini banyak terinspirasi olehnya. Mulai dari bagaimana saya harus menempatkan dan membawa diri sesuai dengan amanah yang saya emban, bagaimana saya berpikir dan bertindak, hingga bagaimana yang harus saya lakukan ketika saya mengambi keputusan.
Muka judes, dibawa spaneng, terlalu serius. Itulah kesan pertama ketika pertamakali saya bertemu. Tepatnya dalam LKK dasar FBTM 2009, kala itu saya jadi LO dan dia menjadi pengisi materi. Tampak sekali dari setiap kata yang dia ucapkan : runtut, berambisius, berintegritas, gak sabaran. Namun yang saya kagum dari orang-orang tipe macam itu adalah gaya berkomunikasinya yang mampu mengundang decak kagum para audiens. Yah kalo dalam istilah mata kuliah Perilaku Organisasi, he’s a charismatic leader!
Kekesalan saya terhadapnya semakin bertambah ketika saya menjadi finalis lomba paper yang diadakan oleh Deplu BEM Pusat untuk mencari delegasi IM Telkom dalam acara Konferensi Himpunan Mahasiswa Bisnis Indonesia (KMBI). Dia salah satu dari 3 dewan juri yang bakal “membantai” saya dan 3 finalis lainnya. Pertanyannya kenapa kesal? Karena saya yang waktu itu jadi satu-satunya angkatan paling labil sama sekali tidak mendapat pemakluman darinya. Tidak seperti dua dewan juri lain yang bisa membari arahan dan membesarkan hati saya bahwa saya masih harus banyak belajar memang. “Biasa banget, kamu seperti presentasi di kelas” begitu ucapnya. Demi apapun saya sumpahin gak bakalan deh saya ketemu orang itu lagi.
Tak dinyana tak diduga, ternyata saya masih dipertemukan oleh orang itu lagi keesokan harinya di LKK lanjutan. Sebenernya saya masih sakit hati sih dibuat sama kata-katanya semaleman, tapi karena pertemuan semalamlah dia kini jadi hafal sama muka saya. HA-HA-HA! Ketika LKK lanjutan inilah sudut pandang saya terhadapnya jadi lain. Saya baru tau bahwa dialah founding fathers dari sistem pemerintahan mahasiswa di IM Telkom ini. Gak muluk-muluk, dia benar-benar memberi suntikan motivasi kepada kami semua agar berkontribusi demi kemajuan kampus. Berbekal pengalamannya menjuarai Indonesia marketing debate competition FE UI, dengan lantang ia mengucapkan : “Saya tidak malu melihat kampus lain berdiri megah”
Tak lama setelah LKK lanjutan, saya ada gawe lagi buat pemilihan raya di kampus. Lagi-lagi dia turun tangan dalam acara ini dan saya diperlihatkan langsung kegigihannya dalam berjuang ketika dihadapkan pada situasi ini : Musma fakultas yang tidak memenuhi kuorum, tidak mendapatkan calon DPM fakultas, banyak calon DPM pusat yang mengundurkan diri, hingga pengunduran timeline yang menurut mekanisme harus melalui sidang kongres luar biasa. Saat itu kami stress bersama namun saya pikir level stress saya masih jauh dibawahnya. Terlebih pada saat itu saya melihat sendiri dia masih mau berjuang untuk membenahi internal DPM Pusat.
Selepas pemira, saya di BEM Pusat dan abang itu di DPM Pusat. Tidak begitu jauh sebenarnya. Seperti halnya dengan kehebatan dia berorasi, tulisan-tulisan yang sering nampang di mading DPM pun juga membuat saya berdecak kagum. Layaknya Soe Hok Gie yang berani mengritik pemerintah lewat tulisan, bedanya kalau beliau ini mengkritik kebijakan-kebijakan institusi yang dinilai merugikan mahasiswa. Ide cemerlangnya untuk membuat sistem penerimaan beasiswa IMT pun telah di acc oleh warek 3. Bargaining power nya pun tidak dapat diragukan lagi. Kala itu kami menghadap BAAk untuk meminta konfirmasi SK rektor mengenai perubahan buku pedoman akademik. Dia dengan kekuatan ‘super’ nya mampu mendebat habis institusi hingga dibuatnya tak berkutik.
namun sayangnya, dia tipe orang yang level ambisiusnya sangat tinggi. Menginginkan segala sesuatunya harus berjalan sesuai rencana. Seringkali beliau memaksakan kehendaknya dan kurang mampu mendengar bawahannya.
Lama tak terdengar kabar setelah itu, secara tak sengaja kami bertemu lagi. Kali ini beliau menawari saya untuk bergabung dalam tim kecil di bawah DPM guna merumuskan suatu sistem alur keuangan untuk KM. “kamu nanti akan saya pertemukan dengan anak-anak BAK”. Beneran deh kalo abang ini udah “menginstruksikan” susah bagi saya untuk menolak. Namun dalam hati kecil saya, saya bingung takutnya nanti tidak tahu apa yang harus saya lakukan disana. Saya pikir okelah ya, berhubung saat-saat seperti ini juga KEMA sedang mbathank gak ada gawe. Walaupun kedua bos saya kelihatan agak kurang setuju saya membantu pekerjaan ini, baik itu bos besar maupun bos kecil. Tau kan? hahaha.
Akhirnya setelah sidang paripurna DPM dalam rangka mengesahkan UU LKK dan pemira, saya dipertemukan juga dengan tim saya. Layaknya orang yang baru pertama kali kenal, kami canggung. Namun dugaan awal yang saya pikirkan di awal meleset. Begitu si abang menjelaskan konsepnya, ide-ide pun bermunculan. (I’ll tell you about them in another posting yaa :D)
Sejak itulah kami mulai dekat. Hubungan kami bukan cuma sekedar konseptor-eksekutor saja. Tapi juga tempat berkeluh-kesah buat saya selama berkiprah di dunia perpolitikan kampus. Dalam tim itu, sayalah satu-satunya anak dari kampus Gerlong. “biar nantinya kamu gak sendirian berjuang di gerlonng” begitu ujarnya. Sontak perasaan saya langsung campur aduk mendengar ucapan itu. Senang karena beliau percaya pada saya, berat karena ini amanan dan saya musti tertantang “BISA TIDAK SAYA LEBIH HEBAT DARINYA?”
(dedicated to : Ketua Badan Pelaksana Reformasi Lembaga Kemahasiswaan aka BAPFORLAK, Ketua Dewan Pengawas Konstitusi masa peralihan, Ketua DPM IM Telkom 2010, dan title-titel lainnya yang belum saya ketahui)